Tripatra kebanjiran Project?
“Tripatra sedang kebanjiran Project” begitu kira-kira beberapa sms yang masuk kami. ya, sepantauan kami Tripatra baru saja menjadi lowest bidder untuk beberapa project ‘kelas berat’. Mereka juga disibukkan project yang sempat ‘mati suri’ dan kemudian bangkit lagi.
Daftar yang kami dapat antara lain: Program Management Services dari Chevron Pacific Indonesia selama 5 tahun yang katanya berkisar diatas 400 juta USD (ini mungkin kelanjutan dari dengan Flexible Program Management Services yang pernah dimenangi Tripatra-Fluor beberapa tahun lalu). Setau saya salah satu kompetitornya adalah konsorsium Rekayasa Industri – Worley Parsons Indonesia.

Project lain dimana Tripatra menjadi lowest bidder adalah Chevron (lagi-lagi) Gunung Salak, lalu di Adaro Project (mining) dan juga di PLTU Tonasa.
Sedangkan project yang dihidupkan kembali setelah sempat ‘mati-suri’ adalah JOB Pertamina-Hess Jambi Merang (yang terletak di pelosok Sungai Kenawang dan Pulau Gading).
Mari kita lihat apakah Tripatra berhasil di award (karena sudah lowest bidder) atau masih ada putaran berikutnya (retender misalnya?).
Kasus retender yang sempat ramai dibicarakan adalah re-tendernya Project Pengembangan Gas Jawa Timur (PPGJ) yang sempat di’menangi’ (maksudnya jadi lowest bidder) oleh Rekayasa Industri.
Buat yang belum tahu, Tripatra dimilika oleh Indika Energy. Indika yang berdiri pada 2002 adalah perusahaan induk investasi swasta dengan kepemilikan saham 46% pada PT Kideco Jaya Agung, perusahaan tambang batubara ketiga terbesar di Indonesia. Indika memiliki 100% saham pada Group Tripatra yang terdiri dari PT Tripatra Engineers and Constructors dan PT Tripatra Engineering di bidang EPC dan O&M di Indonesia.
Apapun yang terjadi, maju terus EPC Indonesia!
Recent Comments