Home > EPC and Migas > Kesibukan Rekayasa Industri

Kesibukan Rekayasa Industri

EPC company yang merupakan anak perusahaan PT Pusri ini rupanya sedang sibuk mengerjakan project2 berbasis downstream dan utility. memang kelihatannya tidak seprestige project upstream (seperti offshore) namun sebenarnya project downstream mempunyai konten teknis yang relatif paling tinggi karena biasanya high pressure dan high temperature plant dan sekaligus high consumed power for utility.

berikut detailnya dari suarakarya-online.com

INDUSTRI RANCANG BANGUN
Rekind Garap Sejumlah Proyek EPC

JAKARTA (Suara Karya): PT Rekayasa Industri (Rekind) sedang mengerjakan sejumlah proyek, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu milik PT PLN (Persero) dan pembangunan pembangkit listrik PT Semen Tonasa.
Dengan pembangunan fasilitas Semen Tonasa ini, maka memosisikan kembali Rekind sebagai pemain utama dalam pembangunan pabrik dan infrastruktur industri semen di Tanah Air.
Project Manager Rekind Gito Waluyo mengatakan, Rekind juga sedang melaksanakan pembangunan pabrik ammonium nitrate prill (ANP) milik PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI). Sekadar informasi, KNI dimiliki oleh Orica Ltd, perusahaan asal Australia. Nilai investasinya sekitar 300 juta dolar AS, dan kontrak untuk Rekind sebagai kontraktor utama 174 juta dolar AS. Perkembangan pembangunan pabrik mencapai 50 persen.
“Melalui proyek ini diharapkan akan membuka pintu bagi Rekind untuk menggarap proyek rancang bangun, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) bidang industri di Australia. Dalam proyek ini, Rekind menggunakan teknologi lisensi UHDE Germany dengan penggunaan komponen lokal sebesar 45 persen dan menyerap hingga 1.000 orang tenaga kerja. Proyek yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur, ini dijadwalkan selesai pada 2011,” katanya dalam keterangan persnya di Jakarta, kemarin.
Kebutuhan ANP di dalam negeri saat ini mencapai 300.000-350.000 ton per tahun, dan diprediksi akan terus meningkat di masa mendatang. Namun, jumlah produksi ANP di dalam negeri saat ini tidak mencukupi permintaan tersebut. ANP merupakan bahan baku peledak dan umumnya digunakan untuk operasional industri pertambangan emas, batu bara, batu kapur, dan lainnya.
“Untuk membangun pabrik ANP diperlukan proses perizinan serta permodalan dan penanganan khusus, terutama dari sisi keamanan. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk mempersiapkan segalanya. Jadi, saat ini, Indonesia sudah memulai pembangunan pabrik ANP terbesar di dunia melalui Rekind,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan pembangunan pabrik ANP, Rekind dituntut menggunakan standardisasi medical treatment injury (MTI), yang merupakan standar dunia memprioritaskan keamanan. Terkait hal ini, Rekind sudah memiliki sertifikat occupational health and safety assessment series (OHSAS) yang diperoleh sejak 2007 dari Lloyd’s Register Quality Assurance Limited. Dengan sertifikat ini, Rekind sudah memenuhi standar internasional di setiap pelaksanaan proyeknya.
“Dengan adanya pabrik berkapasitas produksi 300.000 ton per tahun ini, maka akan menjadikan Indonesia sebagai produsen ANP terbesar di dunia,” ucapnya.
Menurut dia, Rekind juga telah menyelesaikan pembangunan sejumlah proyek di dalam dan luar negeri. Pada tahun ini, Rekind baru saja menyelesaikan proyek pembangunan pabrik milik Brunei Methanol Company Sdn Bhd, produsen metanol cair. (Andrian)
About these ads
Categories: EPC and Migas Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 45 other followers

%d bloggers like this: