Home > Other Issues > Contractor LNG dan Konsortium

Contractor LNG dan Konsortium

  •  monica hardiyono said, on August 6th, 2008 at 4:08 pm 

    Hai,

    salam kenal, yah. Makasih atas blog2 yang ada, membantu sekali. Secara spesifik aku mau tanya ini:
    a. syarat2nya apa saja untuk menjadi kontraktor, terutama dalam bidang LNG
    b. Perbandingan (plus dan minus) dari menjadi lead contractor yang memiliki sub contractor dibanding buat consortium dengan beberapa kontraktor.
    c. Apakah dengan membentuk consortium semua contractors menjadi main contractor
    Makasih banyak yah..

  • Jawaban:

    a. syarat menjadi kontraktor LNG biasanya: ‘pernah membangun LNG plant sebelumnya’. cukup simple kan ?😀. dalam beberapa case, project LNG biasanya di’pecah’ dalam beberapa project (yang pada akhirnya masing2 bisa dikerjakan oleh tim kontraktor yang berbeda):

    – Gas Treatment Plant project: biasanya cukup ditangani oleh EPC yang biasa di gas treatment, dan relatively banyak pemain dibidang ini. Kadang juga melingkupi scope pipe/flow-line dari wellhead.

    – Liquefaction Plant project: ini yang paling kritis. biasanya dilakukan oleh para pemegang licensor LNG yang relatuf masih sedikit (Air Liquide, Linde, Chart, etc) atau oleh EPC besar yang memang spesialis di bidang ini (Bechtel, Chiyoda, etc)

    – LNG Storage Tank project: biasanya ditangani oleh para pemain tank (baik concrete ataupun steel) contractor seperti Arup, CBI, Toyo Kanetsu, etc 

    – Jetty dan Offloading Facilities project: nah, untuk yang ini banyak sekali pemainnya, karena relatively hanya pekerjaan infrastructure

    b. Jika skema contractor-subcont, sudah jelas semua resiko dipegang oleh (main) contractor. tapi dari sisi eksekusi, (main) contractor punya otoritas yang jelas karena memang full-liability. Jika skema consortium, share risk (dan capital) dibagi sesuai perjanjian tapi memang perlu koordinasi yang lebih jelas dan pasti.

    c. betul. yang menjadi main contractor adalah consortium tersebut. Jika dalam bentuk joint venture, tentu JV-nya yang menjadi main contractor. Kadang ada skema seperti ini: satu project dimenangi oleh JV yang dibentuk oleh EPC A dan EPC B, maka dibuat sedemikian menjadi main contractornya adalah perseroan JV (A+B tadi) dengan subcontractor EPC A dan subcontractor EPC B (bisa split scope of supply based atau open-book / ‘siapa yang murah dia yang dapat’.  ini memungkinkan juga asal telah diberitahukan sebelumnya pada masa penawaran (tender) ke client.

    Categories: Other Issues
    1. No comments yet.
    1. No trackbacks yet.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: