Home > EPC and Migas > mau jadi kontraktor atau jadi client?…

mau jadi kontraktor atau jadi client?…

sudah beberapa tahun saya tidak bekerja lagi menjadi kontraktor EPC. setelah bekerja di salah satu big-three EPC di Indonesia, saya sempat bekerja menjadi PMC (project management consultant). memang PMC juga bagian dari pekerjaan EPC, tapi lebih fokus ke project management. selepas dari sana, saya ‘akhirnya’ menjadi client di salah satu oil and gas company.
ya, saya sebut akhirnya. jika anda bertanya ke 10 engineer di perusahaan /kantor EPC, mungkin 7 orang akan menjawab bahwa cita-cita mereka adalah menjadi client, yang – dimata contractor- lebih bergengsi dan terjamin (am I right, guys?)

mungkin ada benarnya juga kesan tsb (gengsi dan terjamin), namun disisi lain, khususnya di sisi dinamika dan tantangan pekerjaan, saya harus mengakui bahwa dunia EPC jauh lebih ‘thrilling’.

saat anda menjadi client, khususnya menjadi PMT (project management team) member, anda akan terlibat dalam ‘management of contractor’. anda akan diminta untuk menangani teknis dan non teknis dalam interfacing dengan kontraktor anda, baik kontraktor services (jasa seperti halnya PMC) maupun kontraktor turn key (seperti halnya full package EPC). interfacing disini lebih tertuju kepada skedul dan cost. disisi kualitas, secara umum menjaga agar tidak lari dari spesifikasi dan persyaratan. anda tidak akan terjun 100% ke dalam detail teknis, anda hanya menjaga garis besar sesuai dan mengkompromikan / trade-off jika terdapat hal-hal yang harus diterima dalam batas-batas toleransi jika skedul dan cost menjadi hambatan utama.

jika anda menjadi EPC contractor, anda memang akan bekerja dalam tense yang tinggi (apalagi project lump-sum). anda juga berpacu dalam waktu dan budget untuk bisa memberikan kualitas yang sesuai dengan penawaran anda sebelumnya. jika kualitas berlebih (tapi project on shedule dan on budget) anda akan puas secara teknis dan akan memberikan citra positif ke pada client. jika kualitas jauh dibawah (meski masih didalam batas toleransi), sekalipun on schedule dan on budget, citra kemampuan engineering-an anda akan jatuh di mata client. hal ini, tentunya akan mengurangi kredibilitas kita sebagai engineer.

dengan kata lain: thrill dan adrenalin di dunia EPC biasanya dipacu ketika kita ingin menunjukkan hal yang terbaik dari sisi teknis dan disaat bersamaan menyadari bahwa skedul dan biaya terbatas…

Categories: EPC and Migas
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: