Archive

Archive for February, 2010

Update: Petronas Kepodang

February 28, 2010 Leave a comment

merujuk ke tulisan sebelumnya, saya ingin update berita terakhir bahwa akhir Februari ini akhirnya Petronas Carigali Muriah Ltd PCML) secara resmi sudah mengaward pekerjaan detail engineering project CPP Offshore Platform kepada Technip Indonesia.

selamat kepada kedua pihak (baik penyelenggara maupun kontraktor) semoga project detail engineering ini berjalan lancar dan segera diikuti pembukaan tender untuk pekerjaan PCIC (Procurement Construction Installation and Commissioning).

yang saya dengar, detail engineering dari CPP Kepodang ini akan cukup menantang karena CPP (Central Processsing Platform)nya akan di desain unmanned! (alias tanpa operator – biasanya hanya wellhead platform saja yang unmanned).

apapun tantangannya, sekali lagi, selamat!

Categories: EPC and Migas Tags: ,

LNG Receiving Terminal

February 28, 2010 2 comments

akhir-akhir ini mulai ramai lagi diberitakan tentang rencana konsorsium Pertamina dan PGN membangun LNG Receiving Terminal di Jawa Barat. berita lengkapnya dibawah.

yang patut dicermati bahwa pada sekitar tahun 2006-2007, PLN pernah membuka tender serupa(LNG Receiving Terminal Regasification Facilities – LNG RTRF) untuk daerah Bojonegara dimana seingat saya beberapa EPC company sudah ditetapkan sebagai lowest bidder.

(gambar diambil dari lngpedia.com)

seingat saya dulu, tender EPCnya sudah cukup serius berjalan dan ada beberapa paket (paket LNG tank, paket LNG receiving process area dan paket jetty/loading facilities) .

dari info yang saya dapat, lowest bidder paket LNG tank saat itu adalah Konsorsium Kawasaki Heavy Industry dan Marubeni Corp, lowest bidder untuk jetty adalah SAC Nusantara sementara untuk process regasification plant adalah IKPT (join dengan Tractebel Belgium kalo gak salah).

hanya saja (dari berita yang beredar pada tahun 2007 itu), PLN ‘menunda’ penunjukan pemenang semua paket tanpa kepastian yang jelas.

mudah-mudahan rencana tender LNG Receiving 2010 yang kali ini dilakukan konsorsium PGN-Pertamina dan PLN bertindak sebagai offtaker akan jauh lebih lancar daripada tender yang dulu dilakukan PLN. setidaknya EPC stage nya harus dilaksanakan begitu lowest bidder (winner) ditunjuk.

para kandidat lowest bidder tahun 2007 itu mudah-mudahan masih tertarik untuk berpartisipasi dan meramaikan peta persaingan tender project yang lumayan menantang ini.

tentang tenderingnya, dapat diintip di http://www.pme-indonesia.com/news/?catId=2&newsId=1753

JAKARTA – Guna membangun LNG Receiving terminal di Jawa Barat, kedua perusahaan BUMN PT Pertamina (persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) akan menginvestasikan modalnya sebesar US$ 150 juta.

Menurut Direktur Utama PGN, Hendi P. Santoso, pihaknya akan menggelar tender engineering procurement & construction (EPC) dalam waktu dekat ini.

“Nantinya pemenang tender akan bekerja sama dengan anak usaha,” ujarnya di Jakarta, Rabu (24/2).

Hendi menjelaskan, dalam memenuhi modal anak usahanya bersama dengan Pertamina maka saat ini sedang dilakukan penghitungan modal investasi pada proyek LNG receiving tersebut.

“Pertamina akan menjadi lead dengan pendanaan yang cukup besar dan sisanya akan dipenuhi oleh PGN,” katanya.

Hendi menambahkan, nantinya pertamina akan kuasai 60% dan PGN 40%, ini berarti PGN akan mengucurkan dana sekitar US$ 60 juta.

“Kita masih hitung berapa yang dari internal dan berapa yang harus dipenuhi dari eksternal,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui bahwa LNG receiving terminal tersebut akan dipergunakan untuk menyuplai kebutuhan gas bagi pembangkit listrik milik PLN serta pelaku usaha setempat. (PME-01/SGT)

Categories: EPC and Migas Tags: , , , ,

mau kontrak atau permanen?

February 26, 2010 2 comments

ini pilihan yang cukup menarik ya (dan mohon jangan dijawab ‘mendingan wiraswasta’ karena domainnya sudah rada beda he he).

dari pengalaman dan pengamatan saya selama ini menurut saya ada beberapa keuntungan dan kerugian yang saya bisa jabarkan sbb:

Permanent:

Keuntungan: gengsi, mendapat benefit yang lumayan -jika jadi owner di PSC Migas semua staff entitled home (and/or car) ownership program yang angkanya bisa sangat-sangat lumayan dan mendapat jaminan pesangon jika ada pengurangan pegawai

Kerugian: angka nominal THP perbulan lebih rendah daripada staff kontrak dan kadang2 ada perasaan kurang enak alias enggan jika mau resign

Kontrak:

Keuntungan: dapat nominal bulanan lebih tinggi (rule of thumb pada posisi yang sama biasa 25-30% diatas staff permanen)

Kerugian: terkena aturan Depnaker yang mengharuskan membayar sisa gaji yang belum dibayarkan perusahaan jika staff kontrak resign sebelum masa kontraknya habis (pada kenyataannya banyak sekali orang yang kabur tanpa bayar apapun tanpa ada kesepakatan sama sekali dengan perusahaan–> ini hutang yang harus dibayar di akhirat!)

secara ringkas, menurut saya, jika anda kerja di EPC anda lebih untung menjadi staff kontrak (karena biasanya staff permanen di EPC benefitnya gak heboh2 banget) dan jika anda kerja di owner (di oil and gas company) lebih untung menjadi staff permanen (ya karena benefitnya rada heboh).

demikian. any comments?

Categories: EPC and Migas Tags: , ,

Revamping, Retrofit dan Debottlenecking

February 26, 2010 1 comment

di dunia migas baik sebagai EPC maupun owner (operator) ketiga istilah diatas, revamping, retrofit dan debottlenecking haruslah difahami dan tidak disalah artikan.

yang pasti ketiga kegiatan tersebut dilakukan hanya untuk brownfield project alias project yang dikerjakan pada area /plant yang sudah beroperasi. untuk greenfield (plant baru) ketiga istilah di atas tidak akan mungkin digunakan.

secara umum revamping adalah melakukan modifikasi dan penambahan terhadap plant yang ada. katakanlah suatu refinery yang sudah beroperasi berkapasitas 65000 bpd dan harus dimodifikasi agar kapasitasnya bertambah 2 x lipat. maka yang harus dilakukan adalah menambah equipment dan process baru di tengah2 plant existing atau juga mengubah performance dari existing equipment (misalnya restaging untuk pompa) agar kapasitas produksi plant naik seperti yang diinginkan.

Read more…

Categories: EPC and Migas

Offshore Visit

February 20, 2010 2 comments

di tulisan kali ini saya ingin share tentang pelaksanaan kunjungan ke offshore site. buat rekan rekan yang biasa di onshore, mungkin akan terlihat bahwa kunjungan offshore memerlukan beberapa hal yang cukup ribet (dan kadang sedikit menakutkan) untuk dilakukan.

secara umum, setiap staff yang berangkat ke offshore harus dinyatakan fit secara resmi oleh dokter dan mengantongi sertifikat medical check up. juga harus pernah mengikuti training Sea Survival (latihannya biasanya diminta terjun dari ketinggian 4 meter dan membalikkan life raft dengan baju lengkap). keseluruhan medical fit record dan stamp sea survival itu harus direcord di HSE passport (harus dimiliki semua staff) yang diverifikasi sebelum berangkat.

jika kunjungan regular, biasanya oil company akan memberangkatkan dengan boat, tapi jika urgent chopper juga akan dipilih untuk mengangkut staff dari base ke offshore platform.

jika berangkat dengan boat, master (nakhoda) akan memantau terlebih dulu ketinggian ombak (tide), jika terlalu tinggi biasanya akan ditunda. secara umum ketinggian ombak di atas 2 meter dianggap sudah beresiko.

dalam konteks berangkat dengan boat, setelah tiba staff harus ditransfer dari boat ke platform. karena boat tidak bisa merapat, ada beberapa metode yang dipilih.

salah satu metode yang cukup populer adalah metode frog personnel transfer. pada cara ini, personel diminta duduk saling membelakangi dalam wahana berbentuk bulat yang diletakkan di deck boat. tentunya semua staff harus menggunakan life vest dan safety belt sebelum frog diangkat dengan crane. setelah tiba di platform deck, crane akan dilepas dan personnel bisa turun dari frog dengan selamat. berikut foto frog transfer (www.reflexmarine.com):

metode lain adalah dengan personnel basket yang relatif lebih ‘menakutkan’ daripada sistem frog. dengan basket, personnel diminta berpegangan yang erat kepada jaring pengaman dan kemudian diangkat dengan crane. gambar seperti berikut.

setelah tiba, personnel diharuskan mengikuti safety induction dan selalu mengenakan PPE yang sesuai jika sedang bekerja. jika sedang break dan meeting (dimana PPE tidak digunakan), personnel harus memastikan bahwa posisi alat pengaman (life raft, life vest dlsb) bisa dijangkau dan segera digunakan jika terjadi keadaan darurat

Categories: EPC and Migas