Archive

Archive for April, 2010

Proyek EPC (berikutnya) di Musi Rawas

April 30, 2010 1 comment

setelah dipimpin oleh Pak Dahlan Iskan, terlihat sekali cukup banyak gebrakan yang dilakukan oleh PLN. salah satunya adalah launching rencana project EPC untuk PLTG di Sumsel.

Jika dilaksanankan, tentu pertanyaannya apakah tidak bentrok dengan rencana pengembangan SSWJ (South Sumatera West Java) Pipeline yang dimiliki oleh PGN? seperti diketahui project mega billion itu rencananya mengangkut cadangan gas diwilayah Sumsel (mulai dari Grissiknya ConocoPhillips dan juga tapping sources wilayah yang dilaluinya) ke Jawa. Kebetulan saya sendiri pernah terlibat (sebagai commissioning leader) – sebagai kontraktor saat itu – saat first stage commissioning pipeline yang masuk dari laut/selat sunda ke station PGN Bojonegara dengan end-user KDL (Krakatau Daya Listrik).

Sisi menarik lain adalah potensi pengembangan Musi Rawas jika project ini dilaksanakan. Tahun 2004-2006 saya juga pernah terlibat pembangunan PPGS (Project Pengembangan Gas Sumbagsel) Pertamina di salah satu pelosok Musi Rawas sehingga sedikit banyak paham bahwa project EPC (apalagi sekelas PLTG) akan membantu perekonomian daerah setempat. Musi Rawas sendiri meski berada di Sumsel namun aksesnya agak susah dan malah lebih dekat dari Bengkulu (4-5 jam dari Bengkulu).

Disisi lain (baca berita dibawah), project Singa Medco yang dikerjakan IKPT memang mau selesai namun project Jambi Merang Hess yang dikerjakan Tripatra (process plant) dan Rekin (pipeline) sepertinya tidak akan selesai dalam waktu dekat ini.

Berikut berita terkait dari kapanlagi.com

Kapanlagi.com – PT PLN (Persero) merencanakan pembangunan dua pembangkit berbahan bakar gas dengan kapasitas total 600 mega watt (MW) di Sumatera Selatan (Sumsel) pada 2010. Dirut PLN Dahlan Iskan di Jakarta, Rabu mengatakan, kedua pembangkit akan memanfaatkan pasokan gas yang berada di wilayah Sumsel. “Pembangunan pembangkit juga memanfaatkan pipa yang sudah ada di wilayah tersebut,” katanya.

Menurut dia, ke dua pembangkit direncanakan berkapasitas masing-masing 200 MW yang akan dibangun di Prabumulih dan 400 MW di Musi Rawas. Pembangkit Prabumulih memanfaatkan gas sebesar 45 juta kaki kubik per hari (MMSDFD) dari Lapangan Singa yang dioperasikan Medco EP Indonesia. Sedang, pembangkit di Musi Rawas memakai pasokan gas sebesar 80 MMSCFD dari Lapangan Jambi Merang yang dioperasikan Hess Indonesia.

“Kami sudah menandatangani kontrak ke dua pasokan gas itu dan direncanakan mulai mengalir pada Maret 2010,” katanya. Dahlan menambahkan, pihaknya telah memutuskan untuk membangun sendiri pembangkit mengingat sudah mendapat kepastian pasokan gas dan harga yang juga cukup rendah.

Namun, pihaknya masih mengkaji mekanisme pengadaannya.

Sejumlah opsi yang sedang dikaji antara lain berjenis pembangkit listrik tenaga gas ( PLTG) atau langsung pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU).

Jika berbentuk PLTG maka kebutuhan investasi ke dua pembangkit diperkirakan mencapai US$420-480 juta. Namun, kalau PLTGU maka investasi bisa mencapai US$660 juta.

“Kami juga belum memutuskan apakah mekanisme pengadaannya melalui sewa, kerja sama operasi atau lainnya,” katanya. Dahlan juga mengatakan, pasokan gas dari Singa dan Jambi Merang tersebut sebelumnya direncanakan dibawa ke Jawa. Namun, mengingat pembangkit gas yang kini beroperasi di Jawa sudah terpenuhi dari rencana pembangunan terminal penerima gas alam cair (LNG) di Teluk Jakarta, maka rencana tersebut urung dilaksanakan.

Di sisi lain, kapasitas pembangkit yang saat ini ada di sistem interkoneksi Jawa juga sudah mencukupi yakni 30% di atas beban puncak. Selain, kebutuhan investasi seperti kompresor untuk membawa gas melalui pipa ke Jawa juga cukup besar. (ant/meg)

Categories: EPC and Migas

Mechanical Engineering di Oil & Gas Company

April 18, 2010 1 comment

di tulisan ini saya ingin membahas berbagai opportunity yang tersedia jika seorang fresh grad dari teknik mesin berminat bekerja di perusahaan oil and gas.

teknik mesin disini berarti luas, meliputi juga bidang2 yang di’lahirkan’ dari ilmu teknik mesin seperti teknik material, teknik aeronotika (penerbangan), teknik perkapalan maupun juga teknik otomotif.

pada dasarnya, semua cabang teknis mesin diatas berinti sama (diambil dari wikipedia lho) yaitu bagaimana mempelajari aplikasi dari prinsip fisika untuk analisa, desain, manufaktur dan pemeliharaan sistem mekanik. ilmu dasarnya tentunya mekanik, kinematik, termodinamika dan energi (termasuk perpindahan panas).

dari pengalaman saya selama ini, berikut list posisi yang bisa diisi oleh lulusan teknik mesin di oil and gas company:

1. Static Mechanical Engineer: bertanggung jawab untuk desain pressure vessel (bejana tekan), tank (bejana tak bertekanan) dan heat exchanger. equipment seperti ini dirancang seaman mungkin dan sesuai dengan peruntukannya. ilmu yang diterapkan semisal ilmu statik / mekanika teknik, structural mechanics, material, perpindahan panas dan juga proses/teknik produksi.

2. Rotating Mechanical Engineer: bertanggung jawab untuk desain dan pemilihan benda2 berputar seperti compressor, pumps ataupun turbin. pada posisi ini diperlukan aplikasi dari ilmu kinematika, dinamika teknik., material, termodinamika dan terutama sekali mekanika fluida.

3. Piping Engineer: yang ini rada ‘beda’ karena tidak diajarkan secara khusus di sekolah, namun pada dasarnya piping adalah sama dengan ilmu mechanical statik diatas hanya saja orientasi terhadap design lay-out (tata letak) dan constructibility sangat ditekankan. daily jobnya adalah desain perpipaan (termasuk valve dan support) dan karena terkait dengan fleksibilitas, maka diperlukan juga pengetahuan tentang getaran mekanik (vibrasi) dan stress analysis. disisi lain, pengetahuan tentang ilmu bahan (material) dan mechanica fluida (teori laminar/turbulent) amat diperlukan.

4. Pipeline Engineer: cabang ini biasanya diisi oleh lulusan teknik mesin maupun teknik sipil. biasanya teknik mesin berfokus pada design dan material, sementara teknik sipil lebih kepada installasinya.

5. Maintenance Engineer: biasanya serupa/meliputi posisi2 diatas hanya saja fokusnya bukan pada desain (rancang bangun baru) tapi lebih kepada perawatan. yang diperlukan tentunya ilmu perawatan mesin (preventive / predictive maintenance), schedulling maupun juga pengetahuan tentang warehousing.

6. Drilling Engineer: sebenernya ini adalah subset dari petroleum engineer. tugasnya meliputi teknik pengeboran secara aman dan efektif. yang diperlukan adalah aplikasi dari mekanika teknik dan juga material. barangkali lulusan teknik mesin akan jauh lebih kuat disisi teknik pengeborannya (dibanding rekan dari disiplin lain) jika punya dasar mekanika teknik dan elemen mesin yang kuat karena biar bagaimanapun juga semua alat drilling (maupun completion) adalah sistem mekanik

tentu diluar itu masih banyak posisi yang tersedia namun setidaknya enam posisi diatas yang biasanya banyak ditawarkan perusahaan migas.

Nah, bagi para reader yang just recently graduated dari mechanical engineering dan tertarik, silakan memilih profesi mana yang kira-kira suitable buat anda!

Prestasi Pertamina ONWJ

April 17, 2010 4 comments

ada berita yang benar tapi salah dari tempointeraktif edisi 14 April 2010.

cukup menggelikan karena media sebesar Tempo belum bisa membedakan antara Pertamina EP dan Pertamina Hulu Energi. berita dibawah ini seharusnya merujuk ke Pertamina Hulu Energi ONWJ (diakuisisi dari BP Indonesia tahun lalu) bukan ke Pertamina EP. untuk itu, berita dibawah sudah saya revisi (replace ‘Pertamina EP’ dengan ‘Pertamina Hulu Energi ONWJ’.

yang membedakan antara Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE) adalah PEP mengelola blok minyak/gas yang 100% milik Pertamina sementara PHE mengelola blok minyak/gas yang hanya sebagian sharenya dimiliki oleh Pertamina. dalam konteks PHE ONWJ, Pertamina memiliki 46% share dan sekaligus bertindak sebagai operator.

Prestasi yang di highlight adalah blok ONWJ (terbentang dari kepulauan seribu sampai pesisir Indramayu) sejak diambil alih Pertamina berhasil memproduksi migas lebih banyak daripada saat dikelola BP.

Berita yang beredar, minggu lalu mereka berhasil menembus produksi oil diatas 30ribu barrel per day, yang relatif lebih tinggi daripada kisaran produksi ditahun tahun sebelumnya (dikelola pemilik sebelumnya).

Mereka juga giat mengembangkan lapangan baru yaitu APN (yang sekarang dalam proses persiapan tender EPCI) dan GG (yang direncanakan akan bersinergi dengan user/offtaker dikawasan Balongan).

Berikut berita detailnya:

Read more…

Categories: EPC and Migas Tags: ,

BP dan BPH Migas digabung?

ada berita menarik minggu lalu tentang usulan penggabungan kedua regulator di bidang migas ini. saya kira baik BP Migas (upstream/hulu) dan BPH Migas (downstream/hilir) harus terbuka terhadap usulan ini dan menganalisisnya dengan kepala dingin.

cerita tentang kurang kompaknya BP dan BPH Migas dibeberapa issue ‘perbatasan’ hulu dan hilir seperti pipanisasi bukan satu-dua kali pernah terdengar. yang paling update tentunya masalah pipanisasi muriah project dimana BP Migas menganggap pipeline tersebut adalah konsesi Petronas sebagai bagian dari block Kepodang, sementara BPH Migas menganggap pipeline tersebut adalah konsesi Bakrie sebagai bagian dari Kalija (Kalimantan Jawa) pipeline.

dari vivanews: 12 April 2010

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengusulkan penyatuan Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas).

Read more…

Categories: EPC and Migas Tags: ,

Salary Survey di Mid East (2010)

April 12, 2010 2 comments

Belum lama ini ada satu email yang masuk ke inbox saya perihal survey terakhir salary expatriate di industri migas di middle east. Saya kira ini cukup menarik karena data tersebut berasal dari head hunter yang memang beroperasi di kawasan tersebut.

Country Expatriate “average” annual salary in US$
United Arab Emirates 88,500
Saudi Arabia 86,400
Qatar 91,400
Oman 67,800
Kuwait 83,500
Iran 89,300

Karena rata-rata, tentu beberapa orang menerima lebih banyak atau lebih rendah. Tapi setidaknya klaim bahwa Qatar membayar paling tinggi dan Oman membayar paling rendah, ini data yang sulit untuk dibantah.

Perlu dicermati bahwa angka-angka di atas adalah NETT alias diluar pajak (karena memang mid east free tax).

Namun, tentu saja living cost sangat berpengaruh. Para expatriate di Abu Dhabi dikenal sangat susah untuk mendapatkan apartement, sekalipun ada harganya selangit dan harus membayar minimal 6 bulan di muka. Setidaknya harus disisihkan USD 35000 pertahun untuk mendapatkan tempat tinggal yang modest dan nyaman.

Kebalikannya, sekalipun average salarynya rendah, hidup di kesultananan Oman dikenal sangat murah, bisa sampai 20-50% lebih murah daripada di negara timur tengah lainnya.

Kesimpulannya? Hitung dengan teliti sebelum anda memutuskan mau jadi expatriate di sana!

Categories: Other Issues Tags: ,

Gas Indonesia habis tahun 2069?

Berdasarkan berita resmi dari situs ESDM, disebutkan bahwa R/P (reserve to production) gas di Indonesia mencapai 59 tahun, yang menunjukkan di sekitar tahun 2069 maka gas di Indonesia akan habis.

Apakah benar demikian? Tentu tergantung dari interpretasi reserve yang ada, kemauan dan kemampuan mencari reserve yang baru dan juga berapa lifting production rate yang ada. Angka 59 tahun ini angka ‘order of magnitude’ saja yang menunjukkan dalam 2 generasi saja (1 generasi dianggap 30 tahun, mulai dari  lulus kuliah diumur 20an sampai pensiun diumur 50an).

Dua atau tiga (jika ditemukan lagi reserve yang signifikan) generasi bukan masa yang lama. Setidaknya ini menunjukkan bahwa we are going to close the business very soon! betapa tidak, dua generasi menunjukkan bahwa seseorang yang sekarang berusia 40 tahun dan memulai usaha sendiri di industri ini (oil and gas) secara umum tidak mungkin mengharapkan cucunya untuk dapat meneruskan usahanya!

berita lengkap dapat dilihat di sini

sekarang ada pertanyaan, bagaimana dengan kondisi di dunia. ternyata (kebetulan yang mengejutkan) angka R/P di Indonesia persis sama dengan angka rata-rata di dunia!

angka berikut di ambil dari wikipedia

Fuel Unit of measure Reserves Annual Usage (2005) RPR (years)
Oil trillions of barrels 1.2-2 0.03 40-80
Coal[7] billions of tons 998 6 164
Natural gas[7] quads 6370 108 59