Archive

Archive for July, 2010

Lima paket proyek EPC Mobil Cepu Ltd

July 24, 2010 1 comment

melengkapi berita sebelumnya, berikut ini adalah deskripsi pekerjaan EPC yang akan ditenderkan oleh PCML, terdiri dari 5 paket EPC:

Proyek EPC 1 pengerjaan sarana penampungan minyak (CPF – Central Processing Facilities), diperkirakan berkisar di angka 12 triliun rupiah dimana Adhi Karya sedang serius menggarap proposal tendernya

EPC 2 adalah pipanisasi (pipeline) 20 inchi di darat sejauh 72 km mulai Banyuurip sampai bibir pantai Palang Tuban,

EPC 3 pembangunan pipa dibawah laut sejauh 23 Km sebesar 20 inci dari tepi pantai menuju tengah laut sepanjang 23 kilometer. Masih dalam paket itu, juga dibangun menara tambat (mooring tower)

EPC 4 membangun fasilitas penampungan minyak terapung ditengah laut floating storage and offloading. Tempat itu berfungsi menampung dan memuat minyak ke kapal tanker.

EPC 5 adalh kontrak pekerjaan sipil dan infrastruktur, diperkirakan berkisar di angka 1.2 triliun rupiah.

perlu diketahui bahwa 5 paket diatas adalah sudah dalam fase Main Production, sementara yang kita pernah dengar sebelumnya yaitu Early Production Phase sudah/sedang berjalan, yaitu salah satunya setelah mini refinery PT Tri Wahana Universal (TWU) sudah mulai berproduksi

Advertisements
Categories: EPC and Migas

Long Lead Item

July 18, 2010 4 comments

salah satu hal yang sangat penting dalam mengerjakan project EPC adalah bagaimana melakukan strategi yang tepat untuk Long Lead Item.

apakah itu Long Lead Item? LLI adalah equipment/peralatan yang memerlukan waktu delivery yang sangat lama (long lead) untuk sampai ke tempat konstruksi/fabrikasi. saking panjangnya, barang ini  harus dibeli sebelum tender EPC berjalan atau pada minggu2 awal setelah kontrak EPC ditanda-tangani.

ilustrasinya seperti ini kira2: suatu project gas plant dijadwalkan harus selesai dalam waktu 12 bulan, mulai dari EPC company menandatangani kontrak sampai dengan start-up/hari pertama operasi. salah satu equipment di gas plant tersebut adalah Gas Turbine Compressor Package yang typically mempunyai jadwal pengiriman 12 bulan (sampai site) sejak dari purchase order.

bagaimana mengatasinya? jika EPC langsung membeli gas turbine compressor ini di hari pertama setelah tandatangan kontrak EPC maka tetap saja tidak terkejar karena mereka membutuhkan waktu 3 bulan untuk pemasangan, penyambungan dengan piping, pemasangan instrumentasi dan sistem kontrol serta commissioning, sebelum siap untuk start-up.

untuk itu maka client (pemilik project / fasilitas) memutuskan untuk membeli equipment ini pada saat tender berjalan (atau bahkan sebelumnya) yang pasti sebelum EPC company terpilih. tentu agak susah dan tricky dalam engineeringnya karena sudah jelas detail engineering belum lengkap (karena EPCnya kan belum ada) tapi itu adalah resiko yang harus diambil karena hanya dengan cara itu equipment ini akan datang tepat waktu.

biasanya LLI dalam kasus seperti ini disebut juga sebagai ‘free issue company supply’ yang menunjukkan bahwa equipment ini akan di serahkan sebagai komponen ‘free’ (karena yang beli kan si companynya) kepada EPC untuk dilanjutkan proses berikutnya (mengawasi pengiriman, mengerjakan pemasangan sampai start-up)…

Categories: Other Issues Tags:

Safety, safety and safety

July 10, 2010 3 comments

ini berita yang luar biasa menarik bagi saya, ketika Pertamina EP menon-aktifkan Dirut nya karena ada kegagalan dalam safety performance. setidaknya ini menunjukkan komitmen Pertamina untuk menanggapi hal-hal yang sebenarnya sudah sangat standard di dunia migas: SAFETY is very extremely important dan menjadi tanggung jawab semua orang.

meski disisi lain juga menunjukkan bahwa Pertamina EP kesulitan mengendalikan safety di lapangan2 mereka yang sebagian sudah tua dan mungkin beberapa masih menggunakan safety equipment yang belum updated. agak sulit karena safety concern biasanya ber’tabrakan’ dengan bagaimana memproduksi setinggi-tingginya!

ini berita lengkapnya, dari kompas.com, 2 Juli 2010:

JAKARTA, KOMPAS.com — Dewan Komisaris PT Pertamina EP menonaktifkan sementara Direktur Utama Salis Aprilian selama satu bulan terhitung sejak 2 Juli 2010.

Ketika dikonfirmasi, di Jakarta, Kamis (8/7/2010) malam, Salis membenarkan telah dinonaktifkan sebagai Dirut Pertamina EP. “Memang benar, komisaris menonaktifkan sementara saya dari jabatan Presdir Pertamina EP terhitung 2 Juli lalu,” ujarnya.

Ia mengatakan, dasar penonaktifan dirinya adalah terjadinya tiga kecelakaan kerja selama enam bulan terakhir. Kejadian tersebut telah menyebabkan enam orang meninggal yang terdiri atas lima pekerja kontraktor dan satu pekerja Pertamina EP. “Semua kejadian ini di luar kontrol manajemen Pertamina EP,” ujarnya.

Ia mencontohkan, satu orang jatuh dari atas jendela kantor setinggi 2,5 m sewaktu memperbaiki AC yang diduga akibat tersengat listrik hingga menyebabkan gagal jantung.

Selanjutnya, empat orang masuk tangki tanpa diperintah dan ternyata kekurangan oksigen dan satu orang tertimpa tangki semen yang roboh.

Salis melanjutkan, akibat kejadian tersebut, dirinya diminta Dewan Komisaris Pertamina EP memfokuskan diri membuat laporan lengkap kejadian dan menyempurnakan program keselamatan dan kesehatan kerja. “Saya mengambil tanggung jawab ini di pundak saya selaku pimpinan tertinggi, meski kejadian ini di luar kendali saya, agar tidak terjadi lagi hal yang sama atau bahkan lebih buruk lagi,” katanya.

Salis juga mengatakan, sejumlah kecelakaan kerja tersebut merupakan cobaan di tengah keberhasilan pencapaian produksi selama lebih dari enam bulan ini.

Menurut dia, pihaknya berhasil menaikkan produksi minyak hingga mencapai 130.400 barrel per hari di semester I-2010 atau di atas target yang ditetapkan pemerintah sebanyak 128.000 barrel per hari.

Bahkan, lanjutnya, pada Juni lalu sempat menyentuh 140.000 barrel per hari. “Suatu angka psikologis yang sangat memuaskan,” katanya.

Pertamina EP adalah anak perusahaan Pertamina guna mengelola usaha eksplorasi, eksploitasi, dan produksi minyak dan gas.

Categories: EPC and Migas Tags:

Go deep water!

menyambung berita sebelumnya  tentang deep water di Indonesia, kelihatannya para penggiat industri ini harus segera berakselarasi untuk mengambil kesempatan pertama.

sekalipun project2 yang beredar saat ini statusnya masih ‘slow mode’ seperti di West Seno dan Masela, tapi kelihatannya time is coming. buat para spesialis di EPC offshore (floaters, subsea) dan teman teman seperti di Ocean Engineering ITB, ini kelihatannya masa depan anda!

ini berita dari pme-indonesia.com

JAKARTA – Saat ini hampir sebagian besar penemuan-penemuan minyak terjadi pada daerah lepas pantai yang semakin dalam, salah satunya adalah West Seno, Lapangan Abadi di Laut Timor, dengan kondisi lingkungan yang membawa tantangan tersendiri dan memerlukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke depan.

“Tidak hanya di Indonesia, di Teluk Meksiko penemuan minyak juga terjadi di daerah laut dalam,” papar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian ESDM, Bambang Dwiyanto, pada paparannya di Lemhanas, Rabu (7/7).

Menurut Kabalitbang, tantangan pada kegiatan eksplorasi adalah bagaimana menurunkan risiko tidak menemukan minyak. Untuk itu diperlukan peningkatan IPTEK khususnya IPTEK yang mampu membantu interperetasi hasil eksplorasi dengan lebih baik. “Selain seismik 2D, 3D dan 4D, penguasaan pengetahuan kebumian akan membantu kualitas intepretasi data seismik kita,” lanjutnya.

Dalam rangka meningkatkan produksi, saat ini dilakukan eksplorasi di 107 wilayah kerja migas. Dari jumlah tersebut dilaporkan 19 lokasi temuan yang sedang dievaluasi potensi cadangan migasnya. “Diharapkan dalam waktu dekat akan ada tambahan temuan lagi,” ujarnya.

Kabalitbang menambahkan, Dengan teknologi konvesional mungkin hanya 30% dari seluruh minyak dapat diambil. Dengan semakin susahnya mendapatkan cadangan-cadangan minyak baru, maka peningkatan pengambilan minyak dari sumber yang ada sangat diperlukan. “Inilah bagian dimana pengembangan IPTEK kita juga perlukan,” tegas Kabalitbang.

Categories: EPC and Migas Tags: ,