Home > EPC and Migas > Medco akan diakuisisi Pertamina?

Medco akan diakuisisi Pertamina?

beberapa minggu ini beredar kabar bahwa Medco Energi akan bergabung dengan ‘kereta bisnis’ Pertamina. sebenarnya ini bukan cerita baru mengingat di beberapa tempat seperti di Senoro-Donggi, mereka sudah lama bekerja sama (namun belum juga mengambil keputusan strategis ttg apakah jadi/tidak membangun LNG Plant di sana). berita terakhir terkait ini adalah 70% dari reserves akan di LNG-kan, dan sisa 30% nya akan dijadikan feed gas buat pembangkit listrik dan juga pabrik pupuk.

Medco sendiri termasuk berprestasi kinclong (omset total sekitar USD 400 million!) dan Pertamina juga semakin menunjukkan niat (dan kemampuannya) menjadi perusahaan kelas dunia.

diberitakan Medco sekarang sudah ‘aktif’ di middle east seperti Oman dan di Libya, bahkan rencananya Medco akan membangun kilang setara USD 400 juta dollar di sana.

di awal tahun lalu, medco-pertamina sempat bersaing ‘seru’ dalam memperebutkan saham BP di ONWJ (West Java) yang akhirnya ‘dimenangkan’ oleh Pertamina.

jika akhirnya mereka bersatu (kemungkinan besar dalam sebagian wilayah saja baik dalam atau luar negeri), saya kira ini akan sangat membantu terangkatnya posisi nasional dalam produksi migas di Indonesia. sekalipun banyak dari lapangan2 mereka di Indonesia tergolong kecil atau baru saja dikembangkan (Medco di Kaji dan juga di Singa), namun jika bersatu secara agregat akan lumayan besar juga.

berikut dari swa.co.id ttg liputan Medco Energi

Grup Medco: Konsisten di Energi

Thursday, January 21st, 2010
oleh : Eva Martha Rahayu

Walaupun lima tahun terakhir aktif berekspansi ke bioenergi, batu bara dan perkebunan, Medco akan tetap fokus pada bisnis inti: minyak dan gas.

Kalau bicara mimpi, saya ingin Medco menjadi salah satu pemain besar di nuklir dan menyediakan listrik dalam jumlah besar. Mimpi itu ingin saya wujudkan dalam lima tahun ke depan,” ujar Hilmi Panigoro, mantan CEO PT Medco Energi Internasional Tbk., kepada SWA dalam wawancara di Hotel JW Mariott, September 2006. Namun, dilihat dari perkembangannya sekarang, tampaknya Hilmi harus menahan mimpi itu. Pasalnya, kemajuan bisnis listrik ataupun nuklir Medco belum signifikan hingga sekarang. Medco masih berkutat dengan ekspansi dan eksplorasi bisnis minyak dan gas.

Lihat saja, baru-baru ini Medco meneken kesepakatan untuk membeli dua perusahaan pertambangan yang terafiliasi dan secara efektif dikontrol sang founder, keluarga Panigoro, senilai US$ 886 ribu. Akuisisi dilakukan melalui unit bisnisnya, PT Medco Energi Mining Internasional, yang akan membeli PT Duta Tambang Sumber Alam dan PT Duta Tambang Rekayasa. Kedua perusahaan itu dimiliki PT Medco Mining. Dalam prospektusnya, Medco mengaku, akuisisi ini bertujuan membiakkan bisnis nonmigasnya. Sebab, lewat akuisisi tersebut, target total produksi batu bara bisa mencapai 500.000 ton per tahun.

Untuk ekspansi bisnis migas terkini, pada Desember 2009, Sekretaris Perusahaan Medco Cisca Alimin melalui siaran pers menyebutkan, Medco telah menandatangani perjanjian jual-beli gas (PJBG) Lapangan Singa di Blok Lematang Production Sharing Contract dengan Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN). Perjanjian ini direalisasi anak usaha Medco, PT Medco E&P Lematang.

Dijelaskan Cisca, Medco Lematang akan memasok gas sebanyak 53.265 british thermal unit (BTU) dengan nilai maksimum US$ 287,11 juta kepada PGN. Pengiriman untuk jangka tiga tahun dua bulan dan berakhir April 2013.

PJBG juga telah ditandatangani PT Medco E&P Indonesia untuk memasok gas dari lapangan Keramasan, Blok South & Central Sumatra PSC kepada PGN. Volume pasokannya mencapai 14.000 BTU dengan nilai US$ 60,71 juta. Adapun jangka PJBG 24 bulan, terhitung sejak Desember 2009.

Selain di dalam negeri, Medco juga agresif eksplorasi di mancanegara. Kini Medco sudah siap mengebor untuk mendapatkan migas di blok 47 Libya. Sayangnya, aktivitas itu terganjal proses penjualan saham Verenex Energy Inc., pemilik 50% hak pengelolaan di blok 47, kepada Libyan Investment Authority yang belum tuntas juga.

Ya, sejak 2004 Medco berekspansi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke mancanegara. Malah terhitung tahun 2005 Medco beroperasi di Amerika Serikat, Libya dan Oman. Setelah sukses penetrasi di ketiga negara itu, awal 2006 Medco giat mengembangkan bisnis berskala internasional dengan fokus di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Ada puluhan blok yang sedang dirundingkan untuk dibeli, antara lain di Yaman, Aljazair dan Suriah. Alasannya, ”Secara geologi cadangan minyak dunia itu 70%-80% ada di Timur Tengah,” kata Arifin Panigoro, pendiri Medco, kepada SWA saat ditemui di kediamannya Jl. Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Dalam pandangan Theodore S. Pribadi, Direktur Andrew Tani & Co. Pte.Ltd., selama lima tahun terakhir Medco konsisten dengan arah dan tujuan yang ingin dicapai, yaitu menjadi perusahaan energi pilihan para investor, pemegang saham, mitra kerja, karyawan, dan masyarakat umum melalui pembangunan sumber daya energi yang menjadi portofolio investasi yang menguntungkan.

Pengembangan bisnis Medco, Theodore menganalisis, justru terjadi pada bisnis intinya. Lima tahun lalu, Medco sangat mengandalkan usaha migas yang banyak dieksplorasi di dalam negeri. Nantinya, akan ditingkatkan menjadi kelas global, sehingga akan banyak bermain di luar negeri.

Diungkapkannya, strategi inti Medco sejak 2008 berubah dari 7 strategi yang menitikberatkan pada usaha migas menjadi lima strategi utama yang memberikan kesempatan yang sama kepada tiga bidang usaha, yaitu migas, kelistrikan dan industri hilir. Selain itu, difokuskan juga upaya-upaya memasuki bidang usaha energi alternatif dan terbarukan, seperti biofuel dan coal bed methane.

Terkait dengan perubahan strategi, Medco mengubah manajemen dan kepemimpinan, terutama di kepemimpinan puncak. “Semuanya dilakukan melalui sistem suksesi yang tepat kata Theodore memuji. CEO Medco sampai 2007 adalah Hilmi Panigoro, yang sejak 2008 menjabat komisaris utama. Adapun CEO Medco saat ini adalah Darmoyo Doyoatmojo, yang pada periode sebelumnya menjabat Direktur Perencanaan.

Menurutnya, kini perbaikan di segala bidang terjadi di tubuh Medco. Tujuannya untuk memperkuat posisi Medco menjadi pemain migas global. Perbaikan ini untuk memperkuat landasan organisasi melalui keberlanjutan program Integrated Program Management, Proyek Pengembangan Utama Perusahaan, dan Program Optimalisasi Aset. Untuk mempercapat upaya ini, Medco telah melakukan upaya transformasi Medco Energi Korporat menjadi perusahaan holding investasi, dari sebelumnya sebagai perusahaan holding operasional.

Peluang Medco menjadi pemain migas global terbuka lebar. Saat ini upaya-upaya untuk mengakuisisi lapangan-lapangan minyak di luar negeri, terutama di Timur Tengah, terus dilakukan. Motor penggerak ada pada CEO Medco Korporat dengan didukung direksi anak-anak perusahaan. Sedangkan pemikiran strategis dilakukan tim penasihat yang dipimpin Arifin Panigoro dan Alwi Shihab papar Theodore.

Lantas, bagaimana kinerja keuangannya sekarang? Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2009, ternyata laba bersih Medco anjlok 94,81% dari US$ 292,60 juta menjadi US$ 15,18 juta per kuartal III/2009. Sementara penurunan pendapatan mencapai 54,19% menjadi US$ 482,23 juta dibandingkan per kuartal III/2008 senilai US$ 1,05 miliar.

Manajemen Medco dalam laporan keuangan yang dipublikasikan menjelaskan, penurunan pendapatan beberapa segmen bisnisnya memicu penurunan pendapatan hingga 54,19%. Di antaranya, penjualan migas, kimia dan produk petroleum, serta tenaga listrik.

Penjualan migas Medco turun 50,05% menjadi US$ 345,85 juta dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 692,44 juta. Padahal, kedua komoditas ini merupakan penyumbang utama pendapatannya. Penjualan kimia dan produk petroleum lainnya turun 85,84% dari US$ 187,54 juta menjadi US$ 26,54 juta. Adapun pendapatan kontrak lain dan penjualan tenaga listrik turun tipis masing-masing 0,79% dan 11,70%.

Bisa dimengerti mengapa rapor keuangan kuartal III/2009 Medco merah. Pasalnya, tahun lalu harga minyak dunia turun tajam dan otomatis memengaruhi kinerja keuangan Medco. Bandingkan saja, tahun 2008 harga minyak sempat naik hingga mencapai level tertinggi US$ 147 per barel. Level tersebut jauh di atas rata-rata harga minyak 2009 sampai sekarang yang berada di kisaran US$ 75-80 per barel.

Walaupun performa Medco rentan terhadap harga minyak dunia dan fluktuasi dolar AS terhadap rupiah, prospeknya masih benderang seperti bisnis minyak yang digelutinya. Maklum, kebutuhan energi global masih tinggi setelah kondisi perekonomian dunia berangsur pulih.

Akan seperti apa Medco ke depan? Ke depannya, Medco ingin menjadi sebuah kelompok usaha terpadu di bidang energi ujar Theodore. Pernyataan konsultan itu seakan klop dengan harapan Hilmi. Beberapa waktu lalu, Hilmi menegaskan, kendati Medco ekspansi ke non-energi, perusahaan yang akan memasuki umur 30 tahun itu tetap fokus pada bisnis inti. “Jika ada tawaran menarik yang terkait dengan bisnis inti, kami tidak ragu-ragu untuk mengakuisisi. Ini sejalan dengan visi Medco sebagai perusahaan energi pilihan katanya menandaskan.

Reportase: Kristiana Anissa

Riset: Ratu Nurul Hanifah

Categories: EPC and Migas Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: