Archive

Archive for September, 2010

Pemain baru geothermal

September 20, 2010 2 comments

setelah sekian banyak project Geothermal dikerjakan oleh pemain yang ‘itu-itu’ saja, beberapa saat lalu terdengar berita bahwa mega geothermal project di tanah air akan dilaksanakan oleh pemain yang relatif ‘baru’ di Indonesia.

diberitakan, konglomerat raksasa dari India – Tata Power akan berkonsorsium dengan Origin Energy Limited dari Australia dan juga Supraco dari Indonesia untuk membangun 240 MW geothermal project. Gabungan 3 negara ini disebut telah memenangkan project Sorik Marapi geothermal yang berlokasi di Sumatera Utara. Konsorsium tersebut akan membentuk PT Sorik Marapi Geothermal Power sebagai pelaksana.

mereka mengalahkan Medco, Chevron (yang sudah mengoperasikan Geothermal Salak) dan juga Star Energy (yang sudah punya geothermal Wayang Windu)

Group Tata sendiri dikenal diIndonesia melalui berita mobil murahnya “Tata Nano” yang katanya cuma berharga 20 jutaan rupiah. Sementara supraco (disinyalir memiliki saham sekitar 5% di konsorsium tsb) selama ini dikenal sebagai perusahaan jasa inspeksi teknis / PJIT dan juga sebagai man power supply company.

sebagai pemenang konsesi, konsorsium ini tentu akan menyelenggarakan tender EPC untuk pengerjaannya.

mari kita tunggu perkembangan berikutnya, bagaimana mereka bisa melaksanakan project ini dalam waktu yang disepakati (kalau tidak salah dalam 18 bulan).

Categories: Uncategorized Tags: , ,

Medco Block A

September 17, 2010 1 comment

dari berita yang beredar, disebutkan bahwa Medco sedang mempersiapkan pekerjaan EPCI sekitar USD 600 juta untuk pengembangan Blok A. Blok A ini terletak di onshore Aceh dan direncanakan mulai berproduksi di akhir 2012 (atau awal 2013).

Blok A ini terdiri dari 3 area terpisah yaitu Alur Siwah, Alur Rambong dan Julu Rayeu. Informasi yang saya dapat akan ada 2 opsi pengembangan yaitu first gas Alur Rambong sekitar 30-50 MMSCFD disusul dengan Alur Siwah sekitar 110-120 MMSCFD. Opsi lainnya adalah Alur Siwah mendeliver 60 MMSCFD dulu sebelum di ramp up (naik pelan2) sampai 110-120 MMSCFD, dikarenakan adanya strategi penundaan pemasangan Acid Gas Removal Unit.

Gas Block A ini memang sour gas sehingga diperlukan H2S dan CO2 removal yang sangat mahal sehingga perlu dipertimbangkan opsi2 seperti diatas.

Selain gas (kandidat offtakernya adalah PIM dan PLN), diperkirakan juga ada sekitar 2000-3000 bpd condensate.

Yang menjadi tantangan bagi pelaksana EPCInya adalah tingginya CO2 (kalau tidak salah diatas 20%) dan juga tingginya H2S level. belum lagi masalah situasi yang remote meski keamanan sekarang sudah relatif kondusif.

Rencana Medco ini sebenarnya sudah lama tertunda, seingat saya tahun 2007-an mereka sudah pernah mempublikasikan rencana EPCInya. Medco sendiri 2 tahun belakangan sedang sibuk mengerjakan Singa Gas Lematang (dengan kontraktor IKPT) dan malah beberapa bulan terakhir ini sedang terlibat pembicaraan serius dengan Pertamina perihal rencana merger (?) yang sampai sekarang sepertinya belum final.

Categories: Uncategorized

Mohon Maaf Lahir Batin

September 9, 2010 3 comments

Semoga Alloh SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan kita kembali suci, diampuni segala dosa, dan tentunya bertambah ketakwa’an kita

Edi Hamdi dan Keluarga

Categories: Uncategorized

Update Pertamina Offshore West Java

September 5, 2010 1 comment

seperti diketahui, blok ONWJ (Offshore North West Java) sekarang dimiliki oleh Pertamina Hulu Energi, setelah sebelumnya dimiliki oleh BP Indonesia (yang dulu mengakuisisi nya dari ARCO Indonesia).

prestasi yang diraih ONWJ tentu harus diapresiasi sebagai prestasi bangsa karena ini adalah blok offshore terbesar di Indonesia yang dioperatori oleh Pertamina.

berikut detailnya dari Republika akhir Agustus 2010:

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Pertamina Hulu Energi-Offshore North West Java (PHE-ONWJ) menargetkan produksi minyak hingga mencapai 31 ribu bopd pada 2011 ini. Target ini naik 16 persen dibandingkan produksi 2010 sebesar 26.800 bopd.

General Manager PT Pertamina Hulu Energi ONWJ Tenny Wibowo menyatakan, tambahan produksi sebesar 4200 bopd akan diperoleh melalui percepatan pelaksanaan program kegiatan produksi. ”Selain itu dilakukan juga pengembangan lapangan dan pemeliharaan fasilitas secara integral,” kata Tenny di Jakarta, Senin (30/8).

Tenny menambahkan, selain melakukan pengembangan, tahun depan PHE ONWJ juga akan melakukan pemboran 10 sumur sisipan dan sumur pengembanagn, 15 work over, penggantian pipa, dan upgrade system kontrol kompresor bravo. ”Selain itu akan dilakukan juga pemboran dua sumur eksplorasi serta survey seisimik 3D seluas 750 km2 di zona transisi bagian barat atau west transitionnzone,” papar Tenny.

Disebutkan Tenny, pada akhir Agustus 2010 rata-rata produksi aktual ONWJ mencapai 26.800 bopd dan 215 bbtud (setara dg 205 MMSCFD). Realisasi produksi ini, kata dia, lebih tinggi dari target yang ditetapkan dalam rencana kerja 2010 yang menetapkan produksi minyak 25.300 dan telah mencapai target yang ditetapkan dalam revisi rencana kerja 2010 sebesar 26.800 bopd.

Sementara itu untuk realisasi produksi gas sama dengan rencana kerja. Produk kumulatif ONWJ hingga akhir tahun 2009 tercatat sebesar 1,2 milyar barel oil dan 3 TCF gas. “Hingga akhir agustus PHE ONWJ telah melaksanakan pemboran delapan sumur sisipan dan enam work over,” kata Tenny.

Tenny menambahkan, hingga akhir tahun nanti akan dibor tiga sumur sisipan tambahan. ”Ini akan dilakukan 11 pemboran sisipan atau melebih target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja 2010,” tandas dia.

Categories: EPC and Migas Tags: ,

Kesibukan Rekayasa Industri

September 5, 2010 Leave a comment

EPC company yang merupakan anak perusahaan PT Pusri ini rupanya sedang sibuk mengerjakan project2 berbasis downstream dan utility. memang kelihatannya tidak seprestige project upstream (seperti offshore) namun sebenarnya project downstream mempunyai konten teknis yang relatif paling tinggi karena biasanya high pressure dan high temperature plant dan sekaligus high consumed power for utility.

berikut detailnya dari suarakarya-online.com

INDUSTRI RANCANG BANGUN
Rekind Garap Sejumlah Proyek EPC

JAKARTA (Suara Karya): PT Rekayasa Industri (Rekind) sedang mengerjakan sejumlah proyek, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu milik PT PLN (Persero) dan pembangunan pembangkit listrik PT Semen Tonasa.
Dengan pembangunan fasilitas Semen Tonasa ini, maka memosisikan kembali Rekind sebagai pemain utama dalam pembangunan pabrik dan infrastruktur industri semen di Tanah Air.
Project Manager Rekind Gito Waluyo mengatakan, Rekind juga sedang melaksanakan pembangunan pabrik ammonium nitrate prill (ANP) milik PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI). Sekadar informasi, KNI dimiliki oleh Orica Ltd, perusahaan asal Australia. Nilai investasinya sekitar 300 juta dolar AS, dan kontrak untuk Rekind sebagai kontraktor utama 174 juta dolar AS. Perkembangan pembangunan pabrik mencapai 50 persen.
“Melalui proyek ini diharapkan akan membuka pintu bagi Rekind untuk menggarap proyek rancang bangun, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) bidang industri di Australia. Dalam proyek ini, Rekind menggunakan teknologi lisensi UHDE Germany dengan penggunaan komponen lokal sebesar 45 persen dan menyerap hingga 1.000 orang tenaga kerja. Proyek yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur, ini dijadwalkan selesai pada 2011,” katanya dalam keterangan persnya di Jakarta, kemarin.
Kebutuhan ANP di dalam negeri saat ini mencapai 300.000-350.000 ton per tahun, dan diprediksi akan terus meningkat di masa mendatang. Namun, jumlah produksi ANP di dalam negeri saat ini tidak mencukupi permintaan tersebut. ANP merupakan bahan baku peledak dan umumnya digunakan untuk operasional industri pertambangan emas, batu bara, batu kapur, dan lainnya.
“Untuk membangun pabrik ANP diperlukan proses perizinan serta permodalan dan penanganan khusus, terutama dari sisi keamanan. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk mempersiapkan segalanya. Jadi, saat ini, Indonesia sudah memulai pembangunan pabrik ANP terbesar di dunia melalui Rekind,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan pembangunan pabrik ANP, Rekind dituntut menggunakan standardisasi medical treatment injury (MTI), yang merupakan standar dunia memprioritaskan keamanan. Terkait hal ini, Rekind sudah memiliki sertifikat occupational health and safety assessment series (OHSAS) yang diperoleh sejak 2007 dari Lloyd’s Register Quality Assurance Limited. Dengan sertifikat ini, Rekind sudah memenuhi standar internasional di setiap pelaksanaan proyeknya.
“Dengan adanya pabrik berkapasitas produksi 300.000 ton per tahun ini, maka akan menjadikan Indonesia sebagai produsen ANP terbesar di dunia,” ucapnya.
Menurut dia, Rekind juga telah menyelesaikan pembangunan sejumlah proyek di dalam dan luar negeri. Pada tahun ini, Rekind baru saja menyelesaikan proyek pembangunan pabrik milik Brunei Methanol Company Sdn Bhd, produsen metanol cair. (Andrian)
Categories: EPC and Migas Tags:

Tripatra mengejar project USD 3 milyard

September 5, 2010 3 comments

2-3 tahun belakangan ini, terutama setelah menjadi bagian dari Indika Group, Tripatra memang cukup berhasil mendapatkan project2 EPC baru, baik di project2 upstream (gas plant) maupun di downstream ataupun di utility (termasuk powerplant). yang belum banyak dan pernah terdengar adalah kiprah Tripatra di offshore (selain di NSO Mobile Oil tahun 1997 lalu), di fertilizer dan juga di mega refinery seperti di Balongan (ini secara tradisi selalu menjadi jatahnya Rekin atau IKPT).

ini berita dari inilah.com tentang target korporasi Tripatra mengejar mega EPC project di masa datang:

INILAH.COM, Jakarta – PT Tripatra Engineering, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) mengikuti tender kontrak proyek engineering, procurement dan constructing (EPC) di sejumlah proyek sekitar US$3 miliar.

Executive Director PT Tripatra Engineering, Joseph Pangalila mengatakan ada beberapa proyek yang sedang diikuti tendernya oleh perseroan. Ada pun tender proyek yang diincar antara lain proyek pembangunan kilang di Cilacap dengan nilai sekitar US$1,2 miliar. Perseroan akan bersaing dengan lima kompetitor dalam proyek di Cilacap. “Proyek RFCC (residu fluidited catalitic track) dengan Pertamina dulu nilainya sekitar US$1,2 miiliar,” tutur Joseph.

Selain itu, proyek lain yang diincar proyek pabrik pupuk Kaltim V senilai US800 juta. Joseph menuturkan perseroan akan memasukkan harga pada September 2010. “Kami bersaing dengan PT IKPT (Inti Karya Persada Teknik) dan PT Rekayasa Industri untuk tender pabrik pupuk Kaltim V,” kata Joseph.

Perseroan juga mengincar proyek EPC di Exxon, Cepu. Nilai proyek Exxon, Cepu sekitar US$1 miliar. Joseph mengatakan, pihaknya optimis mendapatkan proyek Exxon, di Cepu.

Perseroan juga menargetkan dapat memperoleh proyek Pertamina senilai US$100 juta untuk proyek Pertamina bidang PPGJ gas. [cms]

Categories: EPC and Migas Tags:

Profesi migas yang paling ‘mahal’

September 5, 2010 2 comments

disini saya ingin mendiskusikan profesi di industri migas saja yang paling mahal dan (biasanya konsekuensinya) menjadi paling susah dicari.

kenapa paling susah? ya mungkin karena populasinya sedikit dan karena ratenya tinggi menjadi paling susah untuk dibajak.

sebagai referensi utama saya gunakan list dari Hays (2010):

saya mencoba fokus pada discipline tipikal di EPC yaitu electrical (termasuk instrument), mechanical, piping, process, structural dan pipeline. dari daftar diatas terlihat utk posisi junior level yang paling mahal adalah subsea/pipeline dan paling murah adalah structural engineer.

di posisi mid-level, paling mahal masih tetap pipeline dan yang paling murah menjadi piping engineer.

di posisi principal, lag-lagi pipeline engineer masih paling mahal dan yang paling mengejutkan (baca: nyebelin) adalah mechanical engineer menjadi yang paling termurah.

yang menarik sebenarnya adalah posisi pipeline engineer biasa dipegang oleh mereka yang berbackground mechanical dan structural engineer juga, dan biasanya (dari pengalaman selama ini), hampir tidak ada yang namanya posisi junior pipeline karena biasanya posisi mid dan senior pipeline diisi oleh para mechanical/piping & structural engineer yang banting setir menjadi pipeline engineer.

dari pengalaman saya selama ini dalam proses recruitment (baik sebagai yang diinterview maupun sebagai yang menginterview dan menyusun manpower planning),  kelihatannya klaim Hays untuk pipeline engineer tidak berlebihan. susah sekali mendapatkan seorang senior pipeline engineer karena persyaratanya harus memiliki pengalaman yang lengkap (padahal project2 pipeline – apalagi yang offshore – tidak terlalu banyak di Indonesia) dan harus punya cross-experience juga di pelaksanaan laying sampai commissioning juga. walhasil biasanya banyak company yang meminta existing engineer yang pernah terlibat secara tidak langsung dengan pipeline engineer di proyek sebelumnya (mechanical atau structural) utk berganti profesi menjadi pipeline engineer.

disisi lain, selain pipeline, saya kira rotating engineer (terutama yang mempunyai cross-experience di sisi operation & maintenance sekaligus design engineer) juga paling susah dicari oleh perusahaan EPC (dan oil and gas) company. short cut-nya biasanya dengan membajak dari vendor’s engineer atau application’s engineer yang sebelumnya lebih fokus di sisi ‘menjual’ rotating equipment.

Categories: EPC and Migas Tags: ,