Home > EPC and Migas > “Bercita-cita menjadi client”

“Bercita-cita menjadi client”

belakangan ini baik dari milis (migas) yang saya ikuti, maupun dari percakapan dengan beberapa teman, kelihatannya memang statement “bercita-cita menjadi client” cukup banyak dimiliki oleh rekan-rekan sesama professional di dunia migas.

“menjadi client” disini berarti adalah menjadi Company-man, alias bekerja sebagai engineer di perusahaan PEMILIK plant / plant owner, baik di usaha exploration & production (upstream) maupun diusaha refinery dan pengolahan lainnya (downstream).

jika seseorang yang saat ini bekerja menjadi seorang engineer di perusahaan EPCI, pada dasarnya dia sebenarnya sudah menjadi client dalam arti menjadi client dari para vendor yang menjual barang2 yang ia beli (pompa, kompressor, valves dlsb)!

tapi entah kenapa, “menjadi client” selalu diartikan: bekerja di oil & gas company! tidak mau kalo sekedar menjadi client yang lain!

mungkin – analisa saya nih – cita-cita tersebut muncul karena melihat para oil company-man itu terlihat begitu ‘berkuasa’ di mata teman2 EPCI. mereka (company-man) dengan mudahnya meminta sesuatu pekerjaan dilakukan secepat (dan sebagus mungkin) dan juga punya kuasa untuk menolak pekerjaan EPCI yang dianggap kurang bagus. jadi teman2 di EPCI ingin sekali membalikkan posisinya suatu saat nanti (tapi mudah2an jangan terkesan ‘balas dendam’ ya he he)

buat saya yang sudah pernah kerja di 2 EPCI company dan 3 oil company, saya kira menjadi EPC engineer atawa menjadi Company’s engineer sebenarnya tidak lah terlalu berbeda. jika menjadi EPC engineer kita senantiasa sibuk oleh pekerjaan yang sudah digariskan oleh tender (bagaimana mereduce cost biar project untung), maka sebagai Company man juga akan sibuk oleh pekerjaan menghadapi EPCI sekaligus juga menghadapi BPMigas (dan Ditjen Migas) yang selalu meminta semua pekerjaan dilakukan sesuai prosedur (dan anggaran) yang telah ditetapkan.

malah, jika EPCI tidak terlalu berfikir terhadap operability dan cost life cycle plant yang dibangun, para Company-man justru harus memikirkan hal tsb berbarengan pada saat ‘mengawasi’ pekerjaan EPCI.

ironi juga ya, jika dulu pada saat saya masih di EPCI saya suka bilang “uh, clientnya payah, gak ngerti apa-apa dan suka ngga tau sendiri apa yang dia minta”, sekarang sebagai Company-man saya malah kadang berujar “EPCI company cuma bisa ngomong doang, kerjaannya gak bisa diandalkan, ujung2nya company-man juga yang mengerjakan”

yah, itulah ironi yang sangat lumrah dalam pekerjaan. tidak pernah puas!

jadi ingat Firman Nya:

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19)

 

Categories: EPC and Migas Tags: ,
  1. arisoulisa
    November 5, 2010 at 10:39 am

    Maklum lah, oom. Sekarang kan udah pada ngincer iPad pas umur muda.
    Sepuluh tahun lalu, boro-boro mau gonta-ganti HP.

  2. tukang listrik
    November 11, 2010 at 5:05 pm

    Betul banget mas. Ada parodi begini mas, 7 dari 10 engineer EPC ingin segera menjadi client. Sedangkan 3 sisanya ingin memperdalam ilmu dulu di EPC kmudian suatu saat nanti akan resign ke client. Jadi intinya smua pengen ke client. hehehe…

  3. December 8, 2010 at 7:53 am

    siapa sih yang gak pengen hidup nyaman?

  4. Iqbalal
    December 9, 2010 at 1:20 am

    Ga ada yang salah jadi klien.
    Di klien juga ada ilmu yang ga bisa didapet di EPC
    Klien klo bagus bisa lanjut terus sampai start up bahkan bisa lanjut jadi maintenance engineer di operation.
    Ya intinya semua kesempatan yang sudah dianugrahkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala jangan disia-siakan
    Lagi sekarang banyak posisi klien yang lewat third patry.
    Jadi klien = Freelance. Emang enak

  5. arisoulisa
    December 12, 2010 at 10:50 am

    Sedikit cara pandang lain. Banyak freshies ngga begitu peduli dengan masa depan. Atau mungkin lebih ke sasaran akhirnya apa. Banyak yang cukup mengkhayal bahwa untuk famous target ‘pensiun umur 40’ itu harus diawali dengan gaji yang tinggi.
    Padahal kenyataannya akan sangat berbeda. Remember, company pay your salary with the expectation of at least 110% compensation in terms of your work. Jadi, mulailah anak-anak freshies kelimpungan karena kerjanya ternyata berat benerrrr. Dan mulai fenomena kutu loncat.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: