Home > Common > Sejarah Kampung Melayu

Sejarah Kampung Melayu

sebagai orang asli kawasan Kampung Melayu Jakarta, saya sangat penasaran terhadap asal-usul nama tempat saya (dan orang tua serta kakek-nenek saya) lahir dan dibesarkan kenapa dinamakan Kampung Melayu.

pada saat saya sempat tinggal di Malaysia, saya cukup kaget karena banyak sekali tradisi di sana yang mirip dengan tradisi disini. juga ketika mengingat masa kecil dimana orang tua selalu menolak di sebut ‘orang betawi’ dan lebih memilih disebut ‘orang Melayu’

apalagi ada kerabat saya yang memiliki silsilah cukup lengkap yang pada ujung silsilah tersebut tertera “Hasan datang pada tahun sekian-sekian”. kata “datang” menunjukkan bahwa memang Hasan itu kemungkinan besar adalah pendatang dari tempat lain…

juga – bahkan sampai saat ini – panggilan keluarga yang berlaku di keluarga besar kami banyak menyerupai panggilan orang-orang Melayu, seperti “Encik” untuk paman, padahal umumnya orang betawi menggunakan istilah “Encang atau Encing. belum lagi istilah “Abang” yang sangat tipikal Melayu (dan Betawi).

mungkin artikel dibawah yang saya dapat dari sini bisa menjawab sebagian penasaran saya:

Kawasan Kampung Melayu merupakan wilayah Kelurahan Kampung Melayu dan sebagian dari wilayah Kelurahan Balimester, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur (red: sekalipun tempat tinggal saya saat ini Kampung Melayu Kecil berada di kawasan Jakarta Selatan, sejatinya dulu menjadi satu dengan kawasan Kampung Melayu diatas karena hanya dipisahkan oleh sungai Ciliwung dan pemisahan administrasi baru dilakukan sekitar tahun 1970-an)

Kawasan tersebut dikenal dengan sebutan demikian, karena mulai paro kedua abad ke- 17 dijadikan tempat pemukiman orang –orang Malayu yang berasal dari Semenanjung Malaka (sekarang Malaysia) dibawah pimpinan Kapten Wan Abdul Bagus.

Wan Abdul Bagus adalah anak Ence Bagus, kelahiran Patani, Thailand Selatan. Ia terkenal pada jamannya sebagai orang yang cerdas dan piawai dalam melaksanakan tugas, baik administratif maupun di lapangan sebagai perwira. Boleh dikatakan selama hidupnya ia membaktikan diri pada Kompeni. Dimulai sebagai juru tulis, kemudian menduduki berbagai jabatan, seperti juru bahasa, bahkan sebagai duta atau utusan. Sebagai seorang pria dia sering terlibat dalam peperangan seperti di Jawa Tengah, pada waktu Kompeni “membantu” Mataram menghadapi Pangeran Trunojoyo. Demikian pula pada perang Banten, ketika kompeni “membantu “ Sultan Haji menghadapi ayahnya sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Waktu menghadapi pemberontakan Jonker, Kapten Wan Abdul Bagus terluka cukup parah. Menjelang akhir hayatnya ia dipercaya oleh Kompeni untuk bertindak selaku Regeringscommisaris, semacam duta, ke Sumatera Barat.

Kapten Wan Abdul Bagus meninggal dunia tahun 1716, ketika usianya genap 90 tahun. Kedudukannya sebagai kapten orang-orang Melayu digantikan oleh putranya yang tidak resmi, Wandullah, karena ahli waris tunggalnya, Wan Mohammad, meninggal dunia mendahului ayahnya. Menurut F. De Haan, Ratu Syarifah Fatimah, yang kemudian terkenal karena membuat Kesultanan Banten geger, adalah janda dari Wan Mohammad, jadi mantunya Wan Abdul Bagus.

juga dari sumber berikut:

Perpindahan dan peranan ulama Patani di Betawi/Jakarta

Kedatangan orang Patani ke Betawi, baik secara langsung dari Patani atau pun setelah mereka dari Campa memang sejak lama. Pada zaman dulu, Betawi juga dinamakan dengan Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia, tetapi sekarang ialah Jakarta.

Jika benar Sunan Gunung Jati /Syarif Hidayatullah adalah putera Sultan Umdatuddin bin Saiyid Ali Nurul Alam, Sultan di Campa, menurut satu versi bahawa Sunan Gunung Jati tersebut berhasil menguasai Sunda Kelapa itu pada 21 Jun 1527 M.

Sejak itu, beliau dan orang-orang Patani yang ada hubungan dengan Sunan Gunung Jati berhijrah ke Betawi untuk membantu dan mengukuhkan kedudukan Sunan Gunung Jati.

Di antara sekian ramai orang Patani termasuklah keturunan Sheikh Daud bin Abdullah al-Malikul Mubin.

Salah seorang di antara keturunannya ialah Wan Abdul Bagus, datuk neneknya berasal dari Patani tetapi beliau sendiri dilahirkan di Betawi. Beliaulah yang membuka Kampung Melayu di Betawi pada tahun 1656 M. Pemerintah kolonial Belanda melantik Wan Abdul Bagus menjadi ketua orang-orang Melayu atau digelar dengan Captain Malleyer.

Wan Abdul Bagus al-Fathani menguasai tanah yang luas di bahagian tepi kiri-kanan Kali Ciliwung sebelah selatan dan bersempadan dengan tanah Meester Cornelis. Pemilikan tanah dikeluarkan dalam tahun 1661 M dan ditambah lagi tahun 1696 M sehingga menjadi amat luas.

Wan Abdul Bagus meninggal dunia tahun 1716 M. Beliau digantikan anaknya Wan Abdullah bin Wan Abdul Bagus al-Fathani sehingga Belanda merampas kekayaan dan melucutkan jabatannya sebagai Kapten Melayu. Kemudian Wan Abdullah ditangkap, dipenjara, diseksa dan dibuang.

Berdasarkan cerita di atas dapat disimpulkan bahawa keluarga besar ulama Patani pernah berperanan penting di Betawi baik dalam kepemimpinan duniawi mahu pun ukhrawi.

Categories: Common Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: