Archive

Archive for the ‘EPC and Migas’ Category

Kiprah Gunanusa di industri offshore dunia

February 6, 2011 1 comment

mendengar kata Gunanusa yang terlintas langsung adalah nama pak Iman Taufik sebagai pendiri. Gunanusa juga dikenal sebagai pelopor EPCIC contractor spesialis offshore yang ditangani oleh tenaga lokal. lokasinya di Cilegon tentu menjadi nilai tambah sendiri karena akses yang mudah dan tentu saja dekat dengan pasar industri di jakarta.

sejak beberapa tahun lalu sebagian saham Gunanusa sudah diambil alih oleh perusahaan Malaysia dan kelihatannya cukup gencar mencari proyek di luar Indonesia, salah satunya adalah project dari India. tentu ini berita sangat bagus mengingat biasanya mereka mengerjakan project dari klien lokal Indonesia (Peciko/Tunu-nya Total Indonesie, Ujung Pangkah-nya Hess)

berikut adalah berita dari bataviase.co.id tentang kiprah Gunanusa mengerjakan project overseas.

 

CILEGON-Kontruksi pembangunan anjungan minyak dan gas lepas pantai (offshore oil and gas) buatan dalam negeri kini mendapatkan pengakuan dunia internasional. Setidaknya, empat negara tertarik untuk mendapatkan teknologi pengeboran minyak bumi dari Indonesia. Hal ini diungkapkan Presiden Direktur PT Gunanusa Utama Fa-bricators. Samad Solbai saat mengadakan press briefing di kantornya, Cilegon, Banten, Selasa (4/1).

Perusahaan tersebut lengah menyelesaikan pengerjaan anjungan dan gas lepas pantai dengan perusahaan minyak asal India dengan nilai kontrak sebesar USD 333 juta. Proyek tersebut merupakan yang terbesar setelah berhasil menyisihkan pesaingnya, yakni tiga perusahaan konstruksi lokal. Konstruksi tersebut segera dipasang di laut Mumbai High, India dua bulan kemudian.

Proyek yang diberi nama ONGC ICP-R ini memiliki bobot sebesar 9.500 ton yang terbagi dalam lima modul yang nantinya dipersatukan di lautan lepas. Kontruksi ini sedalam 80 meter di bawah permukaan laut dan anjungannya setinggi 40 meter di atas permukaan laut. “Kami juga memiliki kontrak dengan Thailand serta Ujung Pangkah Laut Jawa semuanya senilai USD 650 juta,” ungkapnya.

Modul yang tengah menjalani proses penyelesaian ini terbagi dalam tiga buah, masing-masing terdiri atas proses pengilangan, control room, hingga power generator. Untuk menunjang kebutuhan para pekerja, manajemen akan membangun sebuah kantor serta gymnasium. “Panjangnya sekitar 80 kaii 30 meter, untuk di atas permukaan laut diperkirakan akan mencapai 40 meter,” jelasnya.

Sedangkan proyek yang keduaadalah HESS Ujung Pangkah CPP dan AUP dengan bobot total mencapai 6.000 ton senilai USD 200 juta. Kedua struktur yang nantinya dihuni sekitar 35 pekerja itu dipasangdengan kedalaman 10 meter dengan bobot masing-masing sebesar 2.650 ton dan 2.080 ton. “Di atasnya, kita bangun refinery atau kilang minyak yang bisa diangkat dan dipasang ditengah laut,” tambahnya.

Terakhir, pihaknya juga mengerjakan PTTEP QPS (Quarter Platform South) dengan bobot mencapai 3.500 ton sebagai tempat tinggal 158 pekerja. Rencananya, konstruksi tersebut akan dipasang di Bongkot atau lepas pantai Teluk Thailand. “Jumlahnya mencapai 160 bed yang masing-masing harganya mencapai Rp 1 miliar (USD 1 juta),”sahut Edy Rijanto, Direktur Operasi PT Gunanusa Utama Fabricators.

Ketiga proyek itu menyerap tenaga kerja sebanyak 6.500 orang. Sebagian besar direkrut dari sekitar lokasi konstruksi. Sebelumnya, perusahaan ini telah melakukan kerja sama dengan beberapa negara seperti Brunei Darusslam dan Amerika Serikat. “Ke depan kami akan melaksanakan proyek bersama perusahaan minyak di Malaysia dan Thailand,” bebernya, (tyo)

Categories: EPC and Migas Tags:

Update: Gendalo Gehem

December 19, 2010 2 comments

di tulisan sebelumnya tentang deepwater, pernah disinggung rencana chevron untuk memulai project Gendalo Gehem.

di awal desember ini, akhirnya secara resmi diumumkan nama-nama kontraktor yang memenangkan proyek tersebut. untuk kontrak Front End Engineering Design (FEED) pengerjaan Floating Production Unit (FPU) diberikan kepada Technip Indonesia. Kontrak FEED subsea pipeline diberikan kepada Worley Parsons Indonesia, sementara Onshore Receiving Facility diberikan kepada Singgar Mulia. meski saya belum mendapatkan informasinya, sepertinya pekerjaan pipanisasi (pipeline) yang lain, yaitu export gas and condensate pipeline juga diberikan kepada WPI.

ketiga nama diatas tentu bukan nama baru di dunia engineering khususnya dalam pekerjaan FEED, khususnya offshore, meski begitu saya tetap surprise bahwa pekerjaan pipeline akhirnya dimenangkan oleh Worley Parsons Indonesia. setau saya (please reader to confirm) bahwa semua pekerjaan yang terkait dengan pipeline biasanya dikerjakan oleh Worley Parsons di Kuala Lumpur (bukan di Jakarta). jika memang demikian, sungguh disayangkan karena salah satu kesempatan engineer Indonesia untuk mempertajam kemampuan pipeline engineering menjadi hilang (as we really lack of local senior pipeline engineer!)

dari informasi, diketahui bahwa project deepwater skala USD 6 billion ini pada kedalaman 6000 feet ini offtakernya adalah LNG Bontang di Kalimantan Timur. disebutkan juga bahwa Chevron sudah memulai aktivitas farm-in (mengundang investor lain), Sinopec disebut-disebut yang akan berpartisipasi lain. Pertamina sendiri setau saya (please reader to confirm) sudah memiliki saham sekitar 10% di salah satu bagian dari Makassar Strait Block ini.

“Bercita-cita menjadi client”

October 30, 2010 5 comments

belakangan ini baik dari milis (migas) yang saya ikuti, maupun dari percakapan dengan beberapa teman, kelihatannya memang statement “bercita-cita menjadi client” cukup banyak dimiliki oleh rekan-rekan sesama professional di dunia migas.

“menjadi client” disini berarti adalah menjadi Company-man, alias bekerja sebagai engineer di perusahaan PEMILIK plant / plant owner, baik di usaha exploration & production (upstream) maupun diusaha refinery dan pengolahan lainnya (downstream).

jika seseorang yang saat ini bekerja menjadi seorang engineer di perusahaan EPCI, pada dasarnya dia sebenarnya sudah menjadi client dalam arti menjadi client dari para vendor yang menjual barang2 yang ia beli (pompa, kompressor, valves dlsb)!

tapi entah kenapa, “menjadi client” selalu diartikan: bekerja di oil & gas company! tidak mau kalo sekedar menjadi client yang lain!

mungkin – analisa saya nih – cita-cita tersebut muncul karena melihat para oil company-man itu terlihat begitu ‘berkuasa’ di mata teman2 EPCI. mereka (company-man) dengan mudahnya meminta sesuatu pekerjaan dilakukan secepat (dan sebagus mungkin) dan juga punya kuasa untuk menolak pekerjaan EPCI yang dianggap kurang bagus. jadi teman2 di EPCI ingin sekali membalikkan posisinya suatu saat nanti (tapi mudah2an jangan terkesan ‘balas dendam’ ya he he)

buat saya yang sudah pernah kerja di 2 EPCI company dan 3 oil company, saya kira menjadi EPC engineer atawa menjadi Company’s engineer sebenarnya tidak lah terlalu berbeda. jika menjadi EPC engineer kita senantiasa sibuk oleh pekerjaan yang sudah digariskan oleh tender (bagaimana mereduce cost biar project untung), maka sebagai Company man juga akan sibuk oleh pekerjaan menghadapi EPCI sekaligus juga menghadapi BPMigas (dan Ditjen Migas) yang selalu meminta semua pekerjaan dilakukan sesuai prosedur (dan anggaran) yang telah ditetapkan.

malah, jika EPCI tidak terlalu berfikir terhadap operability dan cost life cycle plant yang dibangun, para Company-man justru harus memikirkan hal tsb berbarengan pada saat ‘mengawasi’ pekerjaan EPCI.

ironi juga ya, jika dulu pada saat saya masih di EPCI saya suka bilang “uh, clientnya payah, gak ngerti apa-apa dan suka ngga tau sendiri apa yang dia minta”, sekarang sebagai Company-man saya malah kadang berujar “EPCI company cuma bisa ngomong doang, kerjaannya gak bisa diandalkan, ujung2nya company-man juga yang mengerjakan”

yah, itulah ironi yang sangat lumrah dalam pekerjaan. tidak pernah puas!

jadi ingat Firman Nya:

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19)

 

Categories: EPC and Migas Tags: ,

Update Pertamina Offshore West Java

September 5, 2010 1 comment

seperti diketahui, blok ONWJ (Offshore North West Java) sekarang dimiliki oleh Pertamina Hulu Energi, setelah sebelumnya dimiliki oleh BP Indonesia (yang dulu mengakuisisi nya dari ARCO Indonesia).

prestasi yang diraih ONWJ tentu harus diapresiasi sebagai prestasi bangsa karena ini adalah blok offshore terbesar di Indonesia yang dioperatori oleh Pertamina.

berikut detailnya dari Republika akhir Agustus 2010:

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Pertamina Hulu Energi-Offshore North West Java (PHE-ONWJ) menargetkan produksi minyak hingga mencapai 31 ribu bopd pada 2011 ini. Target ini naik 16 persen dibandingkan produksi 2010 sebesar 26.800 bopd.

General Manager PT Pertamina Hulu Energi ONWJ Tenny Wibowo menyatakan, tambahan produksi sebesar 4200 bopd akan diperoleh melalui percepatan pelaksanaan program kegiatan produksi. ”Selain itu dilakukan juga pengembangan lapangan dan pemeliharaan fasilitas secara integral,” kata Tenny di Jakarta, Senin (30/8).

Tenny menambahkan, selain melakukan pengembangan, tahun depan PHE ONWJ juga akan melakukan pemboran 10 sumur sisipan dan sumur pengembanagn, 15 work over, penggantian pipa, dan upgrade system kontrol kompresor bravo. ”Selain itu akan dilakukan juga pemboran dua sumur eksplorasi serta survey seisimik 3D seluas 750 km2 di zona transisi bagian barat atau west transitionnzone,” papar Tenny.

Disebutkan Tenny, pada akhir Agustus 2010 rata-rata produksi aktual ONWJ mencapai 26.800 bopd dan 215 bbtud (setara dg 205 MMSCFD). Realisasi produksi ini, kata dia, lebih tinggi dari target yang ditetapkan dalam rencana kerja 2010 yang menetapkan produksi minyak 25.300 dan telah mencapai target yang ditetapkan dalam revisi rencana kerja 2010 sebesar 26.800 bopd.

Sementara itu untuk realisasi produksi gas sama dengan rencana kerja. Produk kumulatif ONWJ hingga akhir tahun 2009 tercatat sebesar 1,2 milyar barel oil dan 3 TCF gas. “Hingga akhir agustus PHE ONWJ telah melaksanakan pemboran delapan sumur sisipan dan enam work over,” kata Tenny.

Tenny menambahkan, hingga akhir tahun nanti akan dibor tiga sumur sisipan tambahan. ”Ini akan dilakukan 11 pemboran sisipan atau melebih target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja 2010,” tandas dia.

Categories: EPC and Migas Tags: ,

Kesibukan Rekayasa Industri

September 5, 2010 Leave a comment

EPC company yang merupakan anak perusahaan PT Pusri ini rupanya sedang sibuk mengerjakan project2 berbasis downstream dan utility. memang kelihatannya tidak seprestige project upstream (seperti offshore) namun sebenarnya project downstream mempunyai konten teknis yang relatif paling tinggi karena biasanya high pressure dan high temperature plant dan sekaligus high consumed power for utility.

berikut detailnya dari suarakarya-online.com

INDUSTRI RANCANG BANGUN
Rekind Garap Sejumlah Proyek EPC

JAKARTA (Suara Karya): PT Rekayasa Industri (Rekind) sedang mengerjakan sejumlah proyek, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu milik PT PLN (Persero) dan pembangunan pembangkit listrik PT Semen Tonasa.
Dengan pembangunan fasilitas Semen Tonasa ini, maka memosisikan kembali Rekind sebagai pemain utama dalam pembangunan pabrik dan infrastruktur industri semen di Tanah Air.
Project Manager Rekind Gito Waluyo mengatakan, Rekind juga sedang melaksanakan pembangunan pabrik ammonium nitrate prill (ANP) milik PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI). Sekadar informasi, KNI dimiliki oleh Orica Ltd, perusahaan asal Australia. Nilai investasinya sekitar 300 juta dolar AS, dan kontrak untuk Rekind sebagai kontraktor utama 174 juta dolar AS. Perkembangan pembangunan pabrik mencapai 50 persen.
“Melalui proyek ini diharapkan akan membuka pintu bagi Rekind untuk menggarap proyek rancang bangun, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) bidang industri di Australia. Dalam proyek ini, Rekind menggunakan teknologi lisensi UHDE Germany dengan penggunaan komponen lokal sebesar 45 persen dan menyerap hingga 1.000 orang tenaga kerja. Proyek yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur, ini dijadwalkan selesai pada 2011,” katanya dalam keterangan persnya di Jakarta, kemarin.
Kebutuhan ANP di dalam negeri saat ini mencapai 300.000-350.000 ton per tahun, dan diprediksi akan terus meningkat di masa mendatang. Namun, jumlah produksi ANP di dalam negeri saat ini tidak mencukupi permintaan tersebut. ANP merupakan bahan baku peledak dan umumnya digunakan untuk operasional industri pertambangan emas, batu bara, batu kapur, dan lainnya.
“Untuk membangun pabrik ANP diperlukan proses perizinan serta permodalan dan penanganan khusus, terutama dari sisi keamanan. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk mempersiapkan segalanya. Jadi, saat ini, Indonesia sudah memulai pembangunan pabrik ANP terbesar di dunia melalui Rekind,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan pembangunan pabrik ANP, Rekind dituntut menggunakan standardisasi medical treatment injury (MTI), yang merupakan standar dunia memprioritaskan keamanan. Terkait hal ini, Rekind sudah memiliki sertifikat occupational health and safety assessment series (OHSAS) yang diperoleh sejak 2007 dari Lloyd’s Register Quality Assurance Limited. Dengan sertifikat ini, Rekind sudah memenuhi standar internasional di setiap pelaksanaan proyeknya.
“Dengan adanya pabrik berkapasitas produksi 300.000 ton per tahun ini, maka akan menjadikan Indonesia sebagai produsen ANP terbesar di dunia,” ucapnya.
Menurut dia, Rekind juga telah menyelesaikan pembangunan sejumlah proyek di dalam dan luar negeri. Pada tahun ini, Rekind baru saja menyelesaikan proyek pembangunan pabrik milik Brunei Methanol Company Sdn Bhd, produsen metanol cair. (Andrian)
Categories: EPC and Migas Tags:

Tripatra mengejar project USD 3 milyard

September 5, 2010 3 comments

2-3 tahun belakangan ini, terutama setelah menjadi bagian dari Indika Group, Tripatra memang cukup berhasil mendapatkan project2 EPC baru, baik di project2 upstream (gas plant) maupun di downstream ataupun di utility (termasuk powerplant). yang belum banyak dan pernah terdengar adalah kiprah Tripatra di offshore (selain di NSO Mobile Oil tahun 1997 lalu), di fertilizer dan juga di mega refinery seperti di Balongan (ini secara tradisi selalu menjadi jatahnya Rekin atau IKPT).

ini berita dari inilah.com tentang target korporasi Tripatra mengejar mega EPC project di masa datang:

INILAH.COM, Jakarta – PT Tripatra Engineering, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) mengikuti tender kontrak proyek engineering, procurement dan constructing (EPC) di sejumlah proyek sekitar US$3 miliar.

Executive Director PT Tripatra Engineering, Joseph Pangalila mengatakan ada beberapa proyek yang sedang diikuti tendernya oleh perseroan. Ada pun tender proyek yang diincar antara lain proyek pembangunan kilang di Cilacap dengan nilai sekitar US$1,2 miliar. Perseroan akan bersaing dengan lima kompetitor dalam proyek di Cilacap. “Proyek RFCC (residu fluidited catalitic track) dengan Pertamina dulu nilainya sekitar US$1,2 miiliar,” tutur Joseph.

Selain itu, proyek lain yang diincar proyek pabrik pupuk Kaltim V senilai US800 juta. Joseph menuturkan perseroan akan memasukkan harga pada September 2010. “Kami bersaing dengan PT IKPT (Inti Karya Persada Teknik) dan PT Rekayasa Industri untuk tender pabrik pupuk Kaltim V,” kata Joseph.

Perseroan juga mengincar proyek EPC di Exxon, Cepu. Nilai proyek Exxon, Cepu sekitar US$1 miliar. Joseph mengatakan, pihaknya optimis mendapatkan proyek Exxon, di Cepu.

Perseroan juga menargetkan dapat memperoleh proyek Pertamina senilai US$100 juta untuk proyek Pertamina bidang PPGJ gas. [cms]

Categories: EPC and Migas Tags:

Profesi migas yang paling ‘mahal’

September 5, 2010 2 comments

disini saya ingin mendiskusikan profesi di industri migas saja yang paling mahal dan (biasanya konsekuensinya) menjadi paling susah dicari.

kenapa paling susah? ya mungkin karena populasinya sedikit dan karena ratenya tinggi menjadi paling susah untuk dibajak.

sebagai referensi utama saya gunakan list dari Hays (2010):

saya mencoba fokus pada discipline tipikal di EPC yaitu electrical (termasuk instrument), mechanical, piping, process, structural dan pipeline. dari daftar diatas terlihat utk posisi junior level yang paling mahal adalah subsea/pipeline dan paling murah adalah structural engineer.

di posisi mid-level, paling mahal masih tetap pipeline dan yang paling murah menjadi piping engineer.

di posisi principal, lag-lagi pipeline engineer masih paling mahal dan yang paling mengejutkan (baca: nyebelin) adalah mechanical engineer menjadi yang paling termurah.

yang menarik sebenarnya adalah posisi pipeline engineer biasa dipegang oleh mereka yang berbackground mechanical dan structural engineer juga, dan biasanya (dari pengalaman selama ini), hampir tidak ada yang namanya posisi junior pipeline karena biasanya posisi mid dan senior pipeline diisi oleh para mechanical/piping & structural engineer yang banting setir menjadi pipeline engineer.

dari pengalaman saya selama ini dalam proses recruitment (baik sebagai yang diinterview maupun sebagai yang menginterview dan menyusun manpower planning),  kelihatannya klaim Hays untuk pipeline engineer tidak berlebihan. susah sekali mendapatkan seorang senior pipeline engineer karena persyaratanya harus memiliki pengalaman yang lengkap (padahal project2 pipeline – apalagi yang offshore – tidak terlalu banyak di Indonesia) dan harus punya cross-experience juga di pelaksanaan laying sampai commissioning juga. walhasil biasanya banyak company yang meminta existing engineer yang pernah terlibat secara tidak langsung dengan pipeline engineer di proyek sebelumnya (mechanical atau structural) utk berganti profesi menjadi pipeline engineer.

disisi lain, selain pipeline, saya kira rotating engineer (terutama yang mempunyai cross-experience di sisi operation & maintenance sekaligus design engineer) juga paling susah dicari oleh perusahaan EPC (dan oil and gas) company. short cut-nya biasanya dengan membajak dari vendor’s engineer atau application’s engineer yang sebelumnya lebih fokus di sisi ‘menjual’ rotating equipment.

Categories: EPC and Migas Tags: ,